A.
TEORI SIKLUS HIDROLOGI
Secara umum hidrologi dimaksudkan
sebagai ilmu yang menyangkut masalah air. Akan tetapi dengan alasan-alasan
praktis hanya dibatasi pada beberapa aspek saja. Konsep pokok untuk ilmu
hidrologi adalah siklus hidrologi yang didefinisikan sebagai berikut: "
Hidrologi adalah ilmu tentang seluk beluk air di bumi, kejadiannya,
peredarannya dan distribusinya, sifat alam dan kimianya, serta reaksinya
terhadap lingkungan dan hubungan dengan kehidupan" (Federal Council for Science and Technology, USA,
1959 dalam Varshney, 1977).
Lebih jauh Ray K. Linsley dalam Yandi Hermawan (1986), menyatakan pula
bahwa:" Hidrologi ialah ilmu yang membicarakan tentang air yang ada di
bumi, yaitu mengenai kejadian, perputaran dan pembagiannya, sifat kimia dan
fisika air, serta reaksinya terhadap lingkungan termasuk hubungannya
dengan kehidupan"Singh, 1992 menyatakan bahwa hidrologi adalah ilmu yang
membahas karakteristik menurut waktu dan ruang tentang kuantitas dan kualitas
air bumi, termasuk di dalamnya proses hidrologi, pergerakan, penyebaran, sirkulasi
tampungan, eksplorasi, pengembangan dan manajemen.
Dari beberapa pendapat di atas dapat
dikemukakan bahwa hidrologi adalah ilmu yang mempelajari tentang air, baik di
atmosfer, di bumi, dan di dalam bumi, tentang perputarannya, kejadiannya,
distribusinya serta pengaruhnya terhadap kehidupan yang ada di alam ini.
Studi tentang air dirasakan semakin
penting, terutama di negara-negara berkembang yang masih masalah budaya dan
teknologi dalam penelolaan air yang sesuai dengan lingkungannya. Cabang ilmu
yang mempelajari tentang air tersebut adalah Hidrologi. Secara etimologi, berasal dari dua kata, yaitu hidro = air, dan logos = ilmu.
Dengan demikian secara umum
hidrologi dapat berarti ilmu yang mempelajari tentang air. Hidrologi berasal dari bahasa Yunani, Hydrologia,
yang berarti "ilmu air". Hidrologi adalah cabang ilmu teknik sipil
yang mempelajari pergerakan, distribusi, dan kualitas air di seluruh Bumi,
termasuk siklus hidrologi dan sumber daya air. Orang yang ahli dalam bidang
hidrologi disebut hidrolog,
bekerja dalam bidang ilmu bumi dan ilmu lingkungan, serta teknik sipil dan
teknik lingkungan.
Ruang lingkup ilmu hidrologi
meliputi hidrometeorologi, hidrologi
air permukaan, hidrogeologi,
manajemen limbah dan kualitas air, dimana air memiliki peranan penting. Adapun
ilmu oseanografi dan meteorologi tidak termasuk dalam ruang lingkup bahasan cabang-cabang ilmu
hidrologi,
karena air hanya satu dari aspek penting lainnya.
Penelitian Hidrologi juga memiliki
kegunaan lebih lanjut bagi para ilmuan teknik lingkungan, kebijakan lingkungan,
serta perencanaan. Hidrologi juga mempelajari perilaku hujan terutama meliputi
periode ulang curah hujan karena berkaitan dengan perhitungan debit air banjir
serta rencana untuk setiap bangunan teknik sipil antara lain bendung, bendungan
dan jembatan.
Konsep yang umum itu, kini telah
berkembang sehingga cakupan obyek hidrologi menjadi lebih jelas. Menurut Marta dan Adidarma (1983), bahwa hidrologi adalah ilmu yang mempelajari
tentang terjadinya, pergerakan dan distribusi air di bumi, baik di atas maupun
dibawah permukaan bumi, tentang sifat kimia dan fisika air serta reaksinya
terhadap lingkungan dan hubunganya dengan kehidupan. Kebearadaan air dalam kehidupan merupakan suatu kebutuhan yang
sangat penting, sebab semua mahkluk hidup di bumi membutuhkan air sebagai salah
satu sumber kehidupan.
Berdasarkan konsep tersebut,
hidrologi memiliki ruang lingkup atau cakupan yang luas. Secara substansial,
cakupan bidang ilmu itu meliputi:
Ø Asal mula dan proses terjadinya air
Ø
Pergerakan dan penyebaran air
Ø
Sifat-sifat air
Ø
Keterkaitan air dengan lingkungan dan kehidupan
Hidrologi merupakan suatu ilmu yang
mengkaji tentang kehadiran dan gerakan air di alam. Studi hidrologi meliputi
berbagai bentuk air serta menyangkut perubahan-perubahannya, antara lain dalam
keadaan cair, padat, gas, dalam atmosfer, di atas dan di bawah permukaan tanah
(air tanah), distribusinya, penyebarannya,
gerakannya dan lain sebagainya, temasuk di dalamnya mengkaji asal usul air tanah.
Secara meteorologis, air merupakan unsur pokok paling penting dalam
atmofer bumi. Air terdapat sampai pada ketinggian 12.000 hingga 14.000 meter,
dalam jumlah yang kisarannya mulai dari nol di atas beberapa gunung serta gurun
sampai empat persen di atas samudera dan laut. Bila seluruh uap air
berkondensasi (mengembun) menjadi cairan, maka seluruh permukaan bumi akan
tertutup dengan curah hujan kira-kira sebanyak 2,5 cm.
Keberadaan akan air saat ini tidak
saja sebagai kebutuhan konsumsi semata namun air juga memiliki berbagai
kegunaan dalam aplikasinya bagi manusia seperti; kajian air dalam sains, air dan seni, air dan kesehatan, udara dan air serta air dan tanaman. Air jika tidak dikelola secara
baik dan bijak sana juga akan memberikan dampak yang buruk bagi mahkluk hidup
di bumi, hal ini terjadi bilamana bumi kehilangan atau semakin berkurangnya
sumberdaya air, dan dampak buruk tersebut dapat pula terjadi akibat dari adanya
proses pencemaran sehingga rusaknya kualitas air sehinga mahkluk hidup tidak dapat
lagi mengambil manfaat air bersih dan sehat sebagai kebutuhan
hidup.
Hutan merupakan unsur terpenting
dalam menjaga dan memproduksi air, dengan terjaganya hutan maka akan menjamin
ketersediaan air di dalam bumi.
Agroforestry merupakan bagian terpenting yang
tak terpisahkan dengan hutan. Sebagai salah satu bagian dari kawasan hutan peranan
agroforestry terhadap air adalah pengontrolan aliran
permukaan harian pada skala plot dapat dievaluasi dengan menggunakan model wanulcas.
Dampak alih guna lahan terhadap neraca air harian pada skala bentang lahan
dapat dipelajari dengan menggunakan model genriver
dan model fallow memprediksi dampak
alih guna lahan terhadap neraca air tahunan.
Mungkin selama ini kita tidak pernah
mengetahui jika air yang selalu kita hadapi ternyata menyimpan berbagai keajaiban air sebagaimana yang pernah dikaji dan
diteliti oleh ilmuan jepang.
B. SIKLUS HIDROLOGI
Siklus
hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfir ke bumi
dan kembali ke atmosfir melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi. Pemanasan air samudera oleh sinar
matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi tersebut dapat berjalan secara
kontinu. Air berevaporasi, kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk
hujan, salju, hujan batu, hujan es dan salju (sleet), hujan gerimis atau
kabut.
Pada perjalanan menuju bumi beberapa
presipitasi dapat berevaporasi kembali ke atas atau langsung jatuh yang
kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai tanah. Setelah mencapai
tanah, siklus hidrologi terus bergerak secara kontinu dalam tiga cara yang
berbeda:
1)
Evaporasi / transpirasi - Air yang ada di laut, di daratan,
di sungai, di tanaman, dsb. kemudian akan menguap ke angkasa (atmosfer) dan
kemudian akan menjadi awan. Pada keadaan jenuh uap air (awan) itu akan menjadi
bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk hujan, salju, es.
2)
Infiltrasi / Perkolasi ke dalam tanah - Air bergerak ke
dalam tanah melalui celah-celah dan pori-pori tanah dan batuan menuju muka air
tanah. Air dapat bergerak akibat aksi kapiler atau air dapat bergerak secara
vertikal atau horizontal dibawah permukaan tanah hingga air tersebut memasuki
kembali sistem air permukaan.
3)
Air Permukaan - Air bergerak diatas permukaan tanah dekat
dengan aliran utama dan danau; makin landai lahan dan makin sedikit pori-pori
tanah, maka aliran permukaan semakin besar. Aliran permukaan tanah dapat
dilihat biasanya pada daerah urban. Sungai-sungai bergabung satu sama lain dan
membentuk sungai utama yang membawa seluruh air permukaan disekitar daerah
aliran sungai menuju laut.
Air permukaan, baik yang mengalir maupun yang
tergenang (danau, waduk, rawa), dan sebagian air bawah permukaan akan terkumpul
dan mengalir membentuk sungai dan berakhir ke laut. Proses perjalanan air di
daratan itu terjadi dalam komponen-komponen siklus hidrologi yang membentuk
sisten Daerah Aliran Sungai (DAS).Jumlah air di bumi secara keseluruhan relatif
tetap, yang berubah adalah wujud dan tempatnya.
Gambar 1.Siklus Hidrologi
C. Siklus Air (Siklus Hidrologi)
di Bumi
Daur hidrologi sering juga dipakai
istilah water cycle atau siklus air.
Suatu sirkulasi air yang meliputi gerakan mulai dari laut ke atmosfer, dari
atmosfer ke tanah, dan kembali ke laut lagi atau dengan arti lain siklus
hidrologi merupakan rangkaian proses berpindahnya air permukaan bumi dari suatu
tempat ke tempat lainnya hingga kembali ke tempat asalnya.
Air naik ke udara dari permukaan
laut atau dari daratan melalui evaporasi. Air di atmosfer dalam bentuk uap air
atau awan bergerak dalam massa yang besar di atas benua dan dipanaskan oleh
radiasi tanah. Panas membuat uap air lebih naik lagi sehingga cukup
tinggi/dingin untuk terjadi kondensasi.
Uap air berubah jadi embun dan
seterusnya jadi hujan atau salju. Curahan (precipitation)
turun ke bawah, ke daratan atau langsung ke laut. Air yang tiba di daratan
kemudian mengalir di atas permukaan sebagai sungai, terus kembali ke laut. Air
yang tiba di daratan kemudian mengalir di atas permukaan sebagai sungai, terus
kembali ke laut melengkapi siklus air.
Dalam perjalanannya dari atmosfer ke
luar, air mengalami banyak interupsi. Sebagian dari air hujan yang turun dari
awan menguap sebelum tiba di permukaan bumi, sebagian lagi jatuh di atas daun
tumbuh-tumbuhan (intercception) dan menguap dari permukaan daun-daun. Air yang
tiba di tanah dapat mengalir terus ke laut, namun ada juga yang meresap dulu ke
dalam tanah (infiltration) dan sampai ke lapisan batuan sebagai air tanah.
Sebagian dari air tanah dihisap oleh
tumbuh-tumbuhan melalui daun-daunan lalu menguapkan airnya ke udara (transpiration). Air yang mengalir di
atas permukaan menuju sungai kemungkinan tertahan di kolam, selokan, dan
sebagainya (surface detention), ada
juga yang sementara tersimpan di danau, tetapi kemudian menguap atau
sebaliknya, sebagian air mengalir di atas permukaan tanah melalui parit,
sungai, hingga menuju ke laut ( surface
run off ), sebagian lagi infiltrasi ke dasar danau-danau dan bergabung di
dalam tanah sebagai air tanah yang pada akhirnya ke luar sebagai mata air.
Siklus hidrologi dibedakan ke dalam tiga jenis yaitu:
1.
Siklus Pendek : Air laut menguap kemudian melalui proses
kondensasi berubah menjadi butir-butir air yang halus atau awan dan selanjutnya
hujan langsung jatuh ke laut dan akan kembali berulang.
![]() |
Gambar 2. Siklus Hidrologi Pendek
2.
Siklus Sedang : Air laut menguap lalu
dibawa oleh angin menuju daratan dan melalui proses kondensasi berubah menjadi
awan lalu jatuh sebagai hujan di daratan dan selanjutnya meresap ke dalam tanah
lalu kembali ke laut melalui sungai-sungai atau saluran-saluran air.
![]() |
Gambar.3.Siklus Sedang
3. Siklus
Panjang : Air laut menguap, setelah menjadi awan melalui proses kondensasi,
lalu terbawa oleh angin ke tempat yang lebih tinggi di daratan dan terjadilah
hujan salju atau es di pegunungan-pegunungan yang tinggi. Bongkah-bongkah es
mengendap di puncak gunung dan karena gaya beratnya meluncur ke tempat yang
lebih rendah, mencair terbentuk gletser lalu mengalir melalui sungai-sungai
kembali ke laut.
Gambar.4.Siklus Panjang
Unsur-unsur utama dalam siklus hidrologi :
a) Evaporasi: penguapan dari badan air
secara langsung
b) Transpirasi: penguapan air yang
terkandung dalam tumbuhan
c) Respirasi: penguapan air dari tubuh
hewan dan manusia
d) Evapotranspirasi: perpaduan
evaporasi dan transpiras.
e) Kondensasi: proses perubahan wujud
uap air menjadi titik-titik air sebagai hasil pendinginan
f) Presipitasi: segala bentuk curahan
atau hujan dari atmosfer ke bumi yang meliputi hujan air, hujan es, hujan salju
g) Infiltrasi: air yang jatuh ke
permukaan tanah dan meresap ke dalam tanah
h) Perkolasi: air yang meresap terus
sampai ke kedalaman tertentu hingga mencapai air tanah atau groundwater
Gambar.5. Unsur Utama Siklus Hidrologi
Siklus hidrologi digambarkan secara
lengkap.
Unsur-unsur meteorology meliputi :
a) Presiptasi = hujan
b) Evaporasi = penguapan
c) Evapotranspirasi = penguapan danau
d) Temperature = tekanan / suhu
e) Tekana udara = humadity (air)
f) Sinar matahari = radiasi / pancaran
g) Kecepatan angin
h) Matahari: Merupakan unsur He = H + t
(panas atau energi)
Jelas akan terjadi perubahan temperatur (to) naik atau panas udara mengembang dan tekanan udara mengecil (p)
Jelas akan terjadi perubahan temperatur (to) naik atau panas udara mengembang dan tekanan udara mengecil (p)
i) Absorpsi = sebagian sinar matahari
yang masuk kedalam tanah
j) Refeksi = sebagian sinar matahari
yang dipantulkan ke udara
k) Defraksi = sebagian sinar matahari
yang dipantulkan kemanusia dan tumbuhan
Panas tidaknya tergantung sudut dating sinar matahari
Panas tidaknya tergantung sudut dating sinar matahari
l) Topografi = daerah yang lebih
tinggi, lebih tinggi sinar matahari disbanding yang lebih rendah.
Unsur-unsur meteorology:
Ø temperature(t)
Ø tekanan udara(p)
Ø kelembaban udara(b)
Ø angin
Ø Hujan (P)
Ø Tebal hujan diukur dalam (mm)
Ø Intensitas diukur dalam (mm/dt),
(mm/mt)
Ø I = tebal hujan
Ø Lama hujan
Cth ; daerah A ; 15/11/07 = 50 mm
= 8.00 – 9.30
= 6,5 mm/mt
= 0,072 1,5 = 90
90 = 6,5 mm/dt = 4,32 mm/jam 90.60
a.
Presipitasi (hujan)
Yang perlu diketahui dalam hal ini
ada dua macam :
1. Jumlah hujan, satuannya mm atau cm
2. Intensitas hujan. Yaitu jumlah curah
hujan persatu- satuan waktu, satuannya: mm/det, mm/jam, cm/dt, cm/jam.
Derajat
Hujan Intensitas Curah Hujan (Mm/Menit) Kondisi
Hujan sangat lemah < 0,02 Tanah agak basah (sedikit) Hujan lemah 0,02 – 0,05 Tanah menjadi basah semuanya tetapi sulit membuat puddel Hujan normal 0,05 – 0,25 Dapat dibuat puddel dan bunyi curah hujan kendengaran Hujan deras 0,25 – 1 Air tergenang diseluruh permukaan tanah dan bunyi curah hujan kedengaran dari genangan Hujan sangat deras > 1 Hujan seperti ditumpahkan. Saluran dan drainase meluap
Hujan sangat lemah < 0,02 Tanah agak basah (sedikit) Hujan lemah 0,02 – 0,05 Tanah menjadi basah semuanya tetapi sulit membuat puddel Hujan normal 0,05 – 0,25 Dapat dibuat puddel dan bunyi curah hujan kendengaran Hujan deras 0,25 – 1 Air tergenang diseluruh permukaan tanah dan bunyi curah hujan kedengaran dari genangan Hujan sangat deras > 1 Hujan seperti ditumpahkan. Saluran dan drainase meluap
b.
Pengukuran curah hujan
Ada
dua cara untuk mengukur curah hujan :
1. Secara manual
Dengan
menggunakan alat penakar curah hujan.yaitu, tabung kaca berskala, pada saat
melakukan alat ini diletakkan ditempat datar dan syaratnya;
·
Tempat datar dan aman
·
Merata penempatan dan mudah dijangkau
·
Tidak ditempat bayangan hujan
· Tingginya
20-40 cm dan max diamati 3 x 06.00, 12.00, 18.00
2. Secara otomatis
Biasanya pencatatan 1 minggu sekali, tipe alat yang
digunakan :
·
Tilting bucket
·
Syphon/Sifon
Distribusi curah hujan
Curah hujan pada suatu wilayah jarang sekali merata apalagi
pada wilayah yang luas dan bergunung-gunung. Adapun faktor yang mempengaruhi
distribusi hujan adalah:
1. Lattitude (letak lintang).
1. Lattitude (letak lintang).
2.Altitude (ketinggian dari permukaan laut)
3. Posisi pada daerah yang luas
4. Jarak dari sumber penguapan
5. Topografi (adanya gunung yang menghalangi curah hujan)
6. Angin
6. Angin
7. Temperatur (laut dan tanah)
Ada tiga cara untuk memperkirakan hujan wilayah(rainfall),
berdasarkan data curah hujan local.
1. Cara rata-rata Aljabar (arithmatik mean methiods)
Syarat data curah hujan yang di
hitung dengan cara ini adalah:
a). Daerah cukup datar (elevasi atau ketinggian tempat masing-masing titk relative sama )
a). Daerah cukup datar (elevasi atau ketinggian tempat masing-masing titk relative sama )
b). Jarak
antar stasiun hampir sama
c). Curah
hujannya seragam
RUMUS :
P
= 1/n (PA + PB + PC...Pn)n
P
= rata-rata curah hujan (mm)
n
= jumlah stasiun
PA,PB,PC
= curah hujan masing-masing stasiun (mm)
2. Cara Polygon Thiesen
Jika penyebaran titik pengamatan di daerah bersangkutan
tidak merata. Cara ini memperhitungkan luas daerah yang diwakili oleh
masing-masing stasiun tersebut. Sebagai faktor pembanding dalam menghitung
curah hujan rata-rata. Dengan menarik garis hubung antara masing-masing stasiun
dan menarik sumbunya, dan garis inilah merupakan batas pengaruh masing-masing
stsiun curah hujan.
RUMUS :
RUMUS :
P = P1. AI + P2. AII + P3.
AIII….+Pn. n AI + AII + AIII …..An
3. Cara Isohyet
Adalah garis yang menghubungkan tempat yang mempunyai curah
hujan tinggi yang sama. Caranya adalah dengan membuat peta Isohyet dan
menghitungnya dengan mengalikan curah hujan rata-rata diantara kontur kemudian
di jumlahkan dan dibagi dengan luas seluruh daerah.
RUMUS :
P
= (P1 + P2) + A1(P2 + P3) + A2(P3 + P4) + A3(P4 + P5)A4
2 2 2 2 A1 + A2 + A3 + A4
2 2 2 2 A1 + A2 + A3 + A4
c.
Mengisi data curah hujan yang hilang Metode yang dipakai
adalah
1.
Normal Rasio method
RUMUS
:
Px = 1 n-1 ( Nx P1+ Nx P2 + ……. Nx Pn-13 N1 N2 Nn-1
Px = 1 n-1 ( Nx P1+ Nx P2 + ……. Nx Pn-13 N1 N2 Nn-1
Ket
:
Px = tebal hujan diperkirakan pada stasiun x (mm)
Px = tebal hujan diperkirakan pada stasiun x (mm)
Nx
= hujan tahunan normal pada stasiun x (mm)
N1,
N2,…Nn-1 = hujan tahunan normal pada stasiun 1,2,…n
P1, P2,…Pn-1 = hujan pada saat yang sama dengan hujan yang diperkirakan pada stasiun 1, 2,….n
P1, P2,…Pn-1 = hujan pada saat yang sama dengan hujan yang diperkirakan pada stasiun 1, 2,….n
1.
Mengukur luas penampang Mid
Section Menthod Pengukuran debit aliran Q = A . V – kecepatan Alatnya = carrent mean Pada kedalaman 0,6m => VS
= V0,5 dengan 1 titik. Pada kedalaman 2m => VS = ½ ( V0,4 + V0,6) dengan 2
titik.Pada kedalaman 5m => VS = 1/3 ( V0,25 + V0,5 + V0,75 ) dengan 3 titik.
2.
Floating Menthod
Q
= A . V => U = K .
U=>
A . K U
U
= L / t
K
= 1 – 0,166
√
1 – 2 – 0,1
X
= h /d = 10cm /1cm
X
= 0,1 /1 = 0,1
Jarak
= 20 m U = 20 /2 = 10 m
D.
EVAPORASI
Pengertian Evaporasi adalah
proses pertukaran melalui molekul air di atmosfer atau peristiwa berubahnya air
atau es menjadi uap di udara. Penguapan terjadi pada tiap keadaan suhu sampai
udara di permukaan tanah menjadi jenuh dengan uap air.
Proses evaporasi
terdiri dari dua peristiwa yang berlangsung :
1. Interface
evaporation, yaitu transformasi air menjadi uap air di permukaan tanah.Nilai ini tergantung dari tenaga yang
tersimpan.
2. Vertikal
vapour transfers, yaitu perpindahan lapisan yang kenyang dengan uap air dari
interface ke uap (atmosfer bebas).
Besar kecilnya penguapan dari muka air bebas dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
Besar kecilnya penguapan dari muka air bebas dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
a.
Kelembaban udara
(semakin lembab semakin kecil penguapannya)
b.
Tekanan udara
c.
Kedalaman dan luas
permukaan, semakin luas semakin besar penguapannya
d.
Kualitas air, semakin
banyak unsur kimia, biologi dan fisika, penguapan semakin kecil.
e.
kecepatan angina
f.
Topografi, semakin
tinggi daerah semakin dingin dan penguapan semakin kecil
g.
Sinar matahari
h.
Temparatur
Ada beberapa konsep penting :
1.
Transpirasi, yaitu
proses hilangnya air dalam tumbuhan akibat penguapan melalui stomata daun.
2.
Evapotranspirasi, yaitu
penguapan yang terajdi pad permukaan air, tanah, maupun tumbuhan air pada suatu
DAS
3.
Potential evaporation,
yaitu jumlah penguapan persatu-satuan luas dan waktu yang terjadi pada keadaan
atmosfer saat itu, apa bila tersedia cukup air.
4.
Actual evaporation, yaitu jumlah penguapan
persatu-satuan luas dan waktu yang benar-benar terjadi pada saat itu.
5.
Potential
evapotranspiration, yaitu jumlah
penguapan yang berasal dari tumbuhan, tubuh air, permukaan tanah dalam keadaan
jenuh pada kondisi iklim saat itu (syarat air yang tersedia berlebihan).
6.
Actual
evapotranspiration, yaitu jumlah penguapan
yang berasal dari tumbuhan,tubuh air, permukaan tanah dalam keadaan jenuh yang
benar-benar terjadi pada saat itu.
Pengukuran evaporasi, evapotransporasi
dan transpirasi pengukuran penguapan muka air bebas dapat dapat dilakukan
dengan Atmometer, evaporation pan, ataupun dengan water balance analysis,
sedangkan pengukuran evaporasi dapat dilakukan dengan phytometer, Lhysimeter
maupun dengan water budget suatu plot atau suatu DAS.
Pengukuran secara langsung :
1.
Atmometer
Piche Atmometer berupa sebuah bejana kaca berskala yang berisi air dan tertutup dengan kertas kain. Maka air yang hilang dari bejan meruakan banyaknya evaporasi.
Piche Atmometer berupa sebuah bejana kaca berskala yang berisi air dan tertutup dengan kertas kain. Maka air yang hilang dari bejan meruakan banyaknya evaporasi.
2.
Evaporation pan Jenis
evaporation pan adalah :
a)
Class
evaporasi pan pan ini terbuat dari logam
berbentuk bejana dengan garis tengah 4 feet & ditanam kedalaman 10 inci.
Dipasang diatas rangka kayu setingi 6 inci dari permukaan tanah. Maksudnya
untuk mengurangi turbulensi angina yang mempengaruhi tingkat penguapan, alat ini
mempunyai koefisien 0,6-0,8...................
b)
Colorado
sunken pan alat ini ditanam kedalam tanah dengan maksud pengaruh tanah terhadap
penguapan jenis pen ini mempunyai nilai koefisien 0,75-0,86.
……………………………………
……………………………………
c)
Six foot sunken pen merupakan
modifikasi dari Colorado sunken pen, hanya beda dalam ukuran bejananya. Jenis
pen ini mempunyai koefisien 0,9-0,94
………………………………
………………………………
d)
Floating pen pen ini
diapungkan dalam air genangan (dalam body air). Untuk memasukkan pengaruh massa
ari. Jenis pen ini, sulit dalam pemasangan dan pengisiannya apalagi kalau da
angina kuat dan timbul gelombang maka percikan air akan mempengaruhi ketelitian
pengukuran.
3.
Neraca air Pengukuran
langsung besarnya penguapan dapat pula dilakukan perhitungan keseimbangan air
(water balance) cange of storage.
I = Q + E +∆S
E = I – Q - ∆S
E = I – (Q+∆S)
RUMUS: E = I – Q - ∆S
Ket:
E = Penguapan
I = Aliran masuk(inflow)
∆S = Perubahan simpanan air(dalam DAS)
Q = Air
keluar(outflow)
Untuk
perhitungan waterbalance suatu daerah
dengan luas jenis dan sifat tanah tertentu dpat dilakukan dengan sebuah plot
yang representatif disebut lhysimeter.
Jumlah air yang masuk, keluar, serta perubahannya dalam bejana dapat diamati
dengan teliti sehingga besarnya evapotranspirasi dapat dihitung.
Khususnya
untuk pengukuran transpirasi digunakan alat phytometer. Prinsip pengukuran ini
adalah menanam tumbuhan dalam plot dan seluruh permukaan tanah ditutup.
Sehingga tidak memungkinkan terjadinya penguapan dari permukaan tanah.
Maka
kehilangan air yang terjadi adalah transpirasi Cara pengukurannya :
·
pot ditimbang
·
pot dan tanah basah
ditimbang
·
kemudian tanah
dikeringkan pengukuran secara empiris rumus
empiris untuk mengukur evaporasi antara lain:
Rumus turk (hasil percobaan)
E
= P.t
√0,9
+ (P/1)2
E.
INFILTRASI
Infiltrasi adalah proses meresapnya air kedalam tanah
melewati permukaan tanah. Beberapa konsep penting adalah :
1. Kapasitas
infiltrasi, yaitu kecepatan infiltrasi maksimum yang tergantung dari sifat
permukaan tanah.
2. Kecepatan
infiltrasi, yaitu (infiltrasi nyata/actual infiltration). Yaitu suatu
infiltrasi yang benar-benar terjadi saat itu.
3. Field
capacity (kapasitas lapang), yaitu besarnya kandungan air maksimum yang dapat
ditahan tanah terhadap gaya grafitasi. Sering disebut dengan porositas.
4. Soil
moisture deficiency. Yaitu jumlah kandungan air yang masih diperlukan untuk
membawa tanah pada field capacity.
5. Permeability,
yaitu kemampuan tanah untuk meloloskan air.
Faktor-faktor yang mempengaruhi infiltrasi nyata.
Ada 3 faktor yaitu:
1) sifat-sifat
permukaan tanah (lapisan tanah)
2) .sifat
transmisi lapisan tanah (ilmu tanah)
3) pengapusan
dari kapasitas penampungan(depletion of storage of capacity)
1. Sifat
permukaan tanah
a.
Kecepatan tanah. Permukaan
tanah semakin padat infiltrasi semakin kecil. Pada tanah yang ditumbuhi tanaman
nilai infiltrasi lebih besar dari pada tanah terbuka.
b.
Sifat dan jenis
tanaman. Sifat tanaman, jenis dan kerapatan dapat mempengaruhi infiltrasi. Hal
ini disebabkan : 1>.akar tanaman dapat menyebabkan struktur tanah semakin
gembur. 2>.tanama dapat menghambat aliran air permukaan, air hujan yang
jatuh, sehingga waktu tinggal lebih lama dan infiltrasinya akan lebih benar. 3>.pemadatan
yang disebabkan oleh hantaman butir-butir air hujan. 4>.cara bercocok tanam.
2.
Sifat transmisi lapisan
tanah. Lapisan tanah adeal oleh para ahli dibagi menjadi 4 lapisan yaitu:
a).lapisan atas
tanah yang mengandung bahan organic.
b).lapisan
dibawah a yang merupakan tempat akumulasi bahan koloid. Dan ketebalan menetukan
besarnya infiltrasi.
c).di sebut sub
soil, yaitu lapisan dibawah b yang terdiri dari weatered perent
material(material induk yang melapuk,dan tergantung iklim)
d).disebut juga
bedrock, batuan induk yang tidak dapat mengandung air.
Kemampuan dari masing-masing lapisan ini ada yang bisa meloloskan air dan yang tidak
Kemampuan dari masing-masing lapisan ini ada yang bisa meloloskan air dan yang tidak
3. Penguapan dari kapasitas penampungan jumlah air
yang terinfiltrasi kedalam tanah tergantung dari porositas tanah. Kemungkinan
lapisan atas tanah besar, sehingga pada menit awalnya besar akan tetapi pori
lapisan tanah atas penuh air. Selanjutnya tergantung pada kecepatan pemindahan air
dari lapisan tersebut ke lapisan lebih awal.
c.
Kecepatan infiltrasi (f)
Besarnya
kecepatan infiltrasi nyata (actual infiltrastion rate) lebih kecil atau sama
dengan kapasitas infiltrasinya(fp). Jika intensitas curah hujan > fp
(kapasitas infiltrasinya) maka kecepatan infiltrasi besar pada permukaan tanah.
Cepat berkurang mendekati konstan (fc). Jika intensitas curah hujan ( I ) <
fp, maka penurunan f akan terjadi tetapi lebih lambat. Jika hujan tidak
kontinyu maka kapasitas infiltrasi akan kembali sampai terjadi ujan berikutnya.
d.
Pengukuran infiltrasi
Air hujan jatuh
dipermukaan tanah sebagian menjadi aliran permukaan, sebagian diuapkan kembali,
dan sebagian meresap kedalam tanah.
Karena demikian infiltrasi merupakan mata rantai
dalam proses hidrologi. Sebab potensi air tanah sangat ditentukan oleh besarnya
infiltrasi untuk itu perlu diketahui dengan pengukuran.
Ada 3 alat dan cara untuk mengukur infitrasi yaitu:
1. Double ring inviltrometer
prinsip pengukuran dengan alat ini adalah dengan menanam dua buah pipa besi
berdiameter 30-60 cm. alat ini ada 3 bagian dan ring yang kecil didalam ring
yang besar dan ditanam kedalam tanah sedalam 15 cm.
kemudian di selanya kedua ring dijenuhkan dengan air
dan pada lingkaran yang kecil di isi dengan air dan diukur setiap penurunanya
dari waktu-kewaktu.
Dengan rumus:
F = fc + ( fo - fc)e-kt
Ket:
F = kapasitas infiltrasi pada waktu t satuannya
cm/hari, cm/jam
fo = kondisi awal rata-rata dari kapasitas infiltrasi
dalam cm/hari, cm/jam
e = bilangan napier 2,178
k = bilangan konstanta
t = waktu mulai pengisian air fc nilai limit dari
kapasitas infiltrasi dalam cm/hari
2. Rain simulator cara ini dilakukan dilaboratium inviltrasi dalam cm/hari.
2. Rain simulator cara ini dilakukan dilaboratium inviltrasi dalam cm/hari.
3.Analisa hidrologi
Hidrologi adalah aliran dalam suatu out let
dipisahkan aliran dasarnya (base flow)
dan aliran lansungnya (direct flow).
Maka perbedaan antara hujan dan aliran langsungnya merupakan nilai infiltrasi
dengan catatan nilai evaporasi dianggap konstan.
F. LIMPASAN PERMUKAAN (SURFACE RUNOFF)
Limpasan permukaan (Surface Runoff)
adalah bagian curah hujan setelah dikurangi dengan infiltrasi dan kehilangan
air lainnya. Limpasan permukaan ini berasal dari overlandflow yang segera masuk
ke dalam alur sungai. Aliran ini merupakan komponen aliran banjir yang utama.
G. PROSES
TERJADINYA HUJAN ( PRECIPITATION )
Hujan terjadi karena ada
penguapan air dari permukaan bumi seperti laut, danau, sungai, tanah, dan
tanaman. Pada suhu udara tertentu, uap air mengalami proses pendinginan yang
disebut dengan kondensasi. Selama kondensasi berlangsung uap air yang berbentuk
gas berubah menjadi titik-titik air kecil yang melayang di angkasa. Kemudian
jutaan titik-titik air saling bergabung membentuk awan. Ketika gabungan
titik-titik air ini menjadi besar dan berat maka akan jatuh ke permukaan bumi.
Proses ini disebut dengan presipitasi atau hujan.
Berdasarkan ukuran butirannya, hujan dibedakan menjadi :
Berdasarkan ukuran butirannya, hujan dibedakan menjadi :
1. Hujan Gerimis (drizzle)
Diameter butir-butir air hasil kondensasi kurang
dari 0,5 mm.
2. Hujan Salju (snow)
Terdiri atas kristal-kristal es dengan suhu
udara berada di bawah titik beku.
3. Hujan Batu Es
Merupakan curahan batu es yang turun di dalam
uap panas dari awan dengan suhu udara di bawah titik beku.
4. Hujan Deras (rain)
yaitu curahan air yang turun dari awan dengan
suhu udara di atas titik beku dan diameter butirannya kurang lebih 5 mm.
Hujan dibedakan menjadi 3 tipe, yaitu:
1. Hujan Konveksi/zenit
2. Hujan orografik/relatif
3. Hujan Frontal
H. PENGUKURAN
HUJAN
Jumlah hujan yang jatuh di
suatu daerah selama waktu tertentu disebut curah hujan. Untuk mengetahui
besarnya curah hujan digunakan alat yang disebut penakaran hujan (rain gauge).
Alat ini terdiri atas
corong dan penampungan air hujan. Corong berfungsi mengumpulkan air hujan dan
menyalurkan ke penampungan. Air hujan yang tertampung secara teratur harus
dikosongkan dan jumlahnya diukur menggunakan tabung penakar. Curah hujan
biasanya diukur dalam milimeter (mm) atai sentimeter(cm).
Jumlah hujan yang sudah diukur
kemudian dicatat untuk berbagai tujuan. Beberapa jenis data hujan dapat
diperoleh dari hasil pengukuran hujan, antara lain :
1.
Jumlah curah hujan harian
merupakan hasil pengukuran hujan selama 24 jam.
2.
Curah Hujan Bulanan
merupakan jumlah total curah hujan harian selama sebulan.
3.
Curah Hujan Tahunan merupakan
jumlah total curah hujan harian selama 12 bulan.
Curah hujan sebagai unsur
utama iklim memengaruhi vegetasi alam yang tumbuh di Indonesia. Wilayah
Indonesia yang terletak antara 5°LU-11°LS atau beriklim tropis memiliki curah
hujan tinggi (>2.000 mm) dalam setahun dan suhu udara tahunan rata-rata
sekitar 28°C. Keadaan ini menjadikan vegetasi alam yang tumbuh berupa hutan
tropis.
I. MEMBUAT
TETESAN HUJAN
Ketegangan permukaan air
adalah kemampuan permukaan itu untuk mengerutkan atau membungkus air sehingga
dapat menahan isinya. Air basah yang melengket adalah hasil dari ketegangan
permukaan. Kekuatan tarikan permukaan air mempersatukan dari cukup membasahi
handuk atau kertas filter ketika dicelupkan ke dalam air.
![]() |
Gambar.6. Membuat Tetesan Hujan
J.
PERCOLATION
Gagasan campuran ambang kritis dari per-teori colation
berfungsi sebagai prinsip pengorganisasian untuk menggambarkan interaksi antara
komponen yang membentuk campuran dan untuk mengidentifikasi kapan dan mengapa
perilaku mekanik atipikal harus diharapkan.
DAFTAR PUSTAKA
WWW, DaurHidrologi.co.id



